Tidak produktif selama seminggu. Jadilah dua cerita dalam waktu … berapa? tiga jam? gak tau lah. Bahasanya rada jadul dan khas novel klasik kayaknya. Sengaja open ending lagi <— ga bisa bikin ending yang bener. But hopefully it still offers enjoy.
———————————————————————————————————————
“Yanina…”, panggil laki-laki itu.
Jemarinya menyusuri tulang pipi si gadis, pelan. Dia memujanya, baginya perempuan itu adalah seorang dewi, Aphrodite miliknya, firdaus abadinya, segalanya bahkan lebih dari nyawanya sendiri. Mata biru besar itu terbuka, menatap si pria ganjil lalu merekahkan senyum.
“Yanina…”
Satu panggilan penuh kasih, terucap sebagai limpahan afeksi. Itu namanya, nama yang ia berikan. Tidak ada yang tahu siapa gadis itu sebenarnya. Nama, latar belakang, apalagi keturunan dan tanggal lahir. Misteri melingkupi perempuan muda yang terbaring di depannya dalam balutan gaun sutera putih. Wajahnya yang terbingkai gerai platina tertoleh. Napas James memberat. Dia tahu sebagaimana dirinya sendiri tahu bahwa si pemahat mencintainya seperti seorang serakah mencintai emas. Buatnya enigma tak terpecahkan tersebut hanyalah mulut Yanina yang senantiasa mengatup jika ditanya mengenai perasaannya terhadap James.
“Yanina…”
“Yes, James?”
Bibir yang dipanggil meretas senyum. Satu dua jemarinya menyelip rambut ke belakang telinga si gadis. Yanina bangkit, duduk di atas dipan dan menepuk spasi kosong di samping—membiarkan James berada di sebelahnya.
“Take me…” mohon pria itu.
“Ke mana tepatnya?”
“Tempat yang kau tawarkan kepadaku. Ke surgamu, Yanina. Bawa aku ke sana.”
“Dan mengapa aku harus melakukan itu, Mr. Atwood?”
“Agar aku tak usah membagi tempat bagi kesedihan di hati,” mata birunya menatap lapis lazuli besar di seberang. “Karena…” ia mengulum senyum, “… karena aku tak mau berpisah denganmu.”
—————————————————————————————————————————
Ruang itu sepi. Hanya terdengar bisik samar sesekali. Hujan masih turun, gemar memamerkan petir di saat bersamaan. Sudah beberapa hari ini rintik air menjadi pemandangan umum setiap sore. Bukan hal bagus bagi cuaca dingin musim gugur Westminster. Sebagai tambahan, perapian di sanatorium kecil itu tidak mampu membawa kehangatan musim panas meski dengan nyala api yang paling besar. Pemiliknya yang sudah tua tidak mampu lagi mengeluarkan biaya yang besar untuk memperbaiki rongsokan tersebut. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari memiliki sebuah tempat perawatan jiwa apalagi jika ada satu pasien yang bukannya membaik malah semakin tenggelam dalam ilusi kreasinya sendiri.
Mengeluh bukan suatu jawaban. Dan pasien itu tidak pernah memiliki siapa-siapa sebagai pengunjung. Sulit menyingkirkannya kecuali dia benar-benar sembuh dan siap dilempar kembali ke lingkungan sosial. Pemilik sanatorium merupakan pria yang terlalu baik hingga mau menampung pria yang telah dioper dari satu rumah perawatan ke rumah perawatan lainnya. Maka, kini, dia juga akan berjuang untuk membawa lelaki yang sudah sering jadi buah bibir itu ke kenyataan—ke tempat yang seharusnya.
Namun bulan dan tahun berlalu, pasien tersebut belum juga menunjukkan perkembangan progresif. Malah semakin menjadi. Sekarang dia ditempatkan di kamar berjeruji, lebih mirip penjara daripada sebuah kamar di rumah sakit. Kegilaannya menjadi. Kadang dia mau mati, mau pergi ke suatu tempat yang jauh, tapi kadang malah menangis pilu entah karena apa. Tidak ada yang mau repot-repot menanggapi. Semua berpendapat sama; bahwa lelaki itu adalah seorang gila yang bertingkah laku sebagaimana mestinya—tidak waras.
—————————————————————————————————————————
“Kau mau kemana?” tanyanya suatu hari.
“Pergi. Aku merasa tempatku bukan di sini, James. Sesuatu dalam hatiku memanggil, berkata bahwa aku harus meninggalkan tempat ini.”
“Oh, Yanina…” ujarnya. James Atwood bangkit dari kursinya, beralih dari buku apapun yang ia tengah baca. “Kau akan membiarkanku membusuk dalam kesedihan,” ia hampir memohon, “Jangan… Tinggallah…”
“Maka ikut. Ikut denganku James…”
Tiba-tiba, seperti kehidupan baru dihembuskan ke dalam raga kosong melompong, matanya berbinar gembira. Tangannya menangkup tangannya Yanina. Dingin seperti biasa, seperti bukan wanita muda yang sehat. Namun dia sudah terbiasa, karenanya James tidak terlonjak kaget.
“Aku akan ikut denganmu,” ujarnya penuh ketetapan hati.
“Then I’ll give you my word: I won’t leave your side.”
—————————————————————————————————————————-
Sepuluh tahun berlalu, tapi cuaca masih tetap sama: hujan diiringi petir, jatuh di musim gugur yang sama pula. Orang-orang akan dengan senang hati menghirup cokelat panas dan berdiam di balik selimut atau menikmati derik oranye api menyala di perapian. Namun ada pula orang-orang yang lebih suka menghabiskan waktu dengan berbincang mengenai suatu topik menarik, sekedar untuk membunuh waktu. Tentang pasien yang secara ajaib kabur, misalnya.
“Aku masih ingat kejadian itu. Mengerikan sekali mendengar ada orang gila lepas dari pengawasan petugas medis dan berbaur di antara kita,” ujar sebuah suara.
“Siapa tahu dia akan mencelakai salah satu dari kita. Katanya pria itu mengoceh tentang kekasih atau semacamnya sehari sebelum dia menghilang,” kata yang lain.
“Benar. Kenalanku kerja di sana. Aku bisa memastikan hal itu,” timpal sebuah suara yang lebih tinggi—seorang wanita kali ini. Matanya melirik ke luar, melampaui atap tempat tiga orang itu berteduh. Tetes hujan masih turun meski tak selebat tadi.
“Sudahlah. Lagipula mengapa kita membicarakan hal menyeramkan dengan suasana mengerikan begini? Tidakkah kalian dengar teriakan halilintar?”
“Benar… Ngomong-ngomong sudah coba wine enak di toko yang baru buka di tengah kota?”
Sejenak, kisah kaburnya seorang pasien terlupakan.
—————————————————————————————————————————-
Westminster 1904 musim dingin, enam bulan setelah hujan dan petir yang tak berkesudahan, adalah hari sibuk bagi sebagian besar orang. Salju turun lebat malam sebelumnya, menumpuk kerja pengeruk salju, memupuk jengkel pekerja kantoran yang tak bisa sampai kantor tepat waktu dan memberi keheranan tersendiri bagi polisi daerah.
Telepon berdering di pagi buta, membuahkan decak kesal petugas jaga yang tidur lima menitnya terganggu. Dan setelah tiga menit laporan seorang wanita, mata mengantuknya membuka bagai disiram sari cabai. Dengan sigap ia memerintahkan beberapa anggota kepolisian menuju tepian Thames—sesuai laporan yang diterima.
Sesosok tubuh kaku membiru mengambang di permukaan sungai begitu mereka tiba. Wanita penelepon berdiri sambil memegangi dada, jelas masih terkejut dengan apa yang menyambut paginya. Lantas ia digiring pergi oleh opsir beroman ramah.
“Ada tanda pengenal?” tanya kepala tim penyidik.
Bawahannya mendesah tanpa harapan. “Tidak ada dompet apalagi kartu pengenal atau uang.”
“Another Joe Bloggs,”ujarnya malas. Ia mencatat sesuatu pada bloknotnya. “Jadi jelas prosedur apa yang akan kita lakukan, anak-anak. Bawa pria ini dan…”
“I’m afraid that the procedures should wait, Sir.”
Alisnya meninggi, dengan gerakan kepala dia mengomando anak buahnya kembali ke tepi setelah—ia yakin—lelaki pirang tersebut menemukan sesuatu di sungai yang jelas membuat celananya basah meski sudah digulung.
“What bloody thing is that?” tanyanya ngeri begitu sebuah patung dengan anggota tubuh tidak lengkap dibawa naik. Mata bulatnya yang besar menatap ganjil, memberi sensasi dingin tersendiri di tengkuk Si Kepala Penyidik.
“Entahlah. Patung, semacam jimat atau suatu yang amat berharga bagi Joe Bloggs ini kurasa. Kalau tidak untuk apa pria ini membawa benda berat begitu sampai detik akhir kematiannya?”
“Hey… Found something,” ujar yang lain. “This,” ia memamerkan secarik kertas. Petugas itu memberikan kertas kumal kepada atasannya.
“I got you at last…”
Jeda. Lelaki itu berhenti membaca.
“… Yanina…”