May292012

Ada kalanya ketika gue ngerasa menjadi seorang brengsek. Yang pasti bawaannya marah, kesel tanpa sebab yang jelas. Ibarat PMS singkat yang kadang hilang-timbul. Kalo udah kena sindrom ini pasti bakal ogah ngapa-ngapain dan pengen mewek kayak anak bayi; padahal masalahnya juga seburem air cucian beras.

Labil kata orang. Goblok gue bilang.

Gak tahulah. Ini namanya penyesalan? Atau masa-masa renungan? Atau apa?

Gue memang masih cetek urusan begini.

8PM

Lagi suka padahal lagu jaman kapan. Kesannya melodinya manis banget. :”]

akhmadmuakhor:

byemyalmostlover:

THE MAN WHO CAN’T BE MOVED by The Script

Going back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag, I’m not gonna move
Got some words on cardboard, got your picture in my hand
Saying if you see this girl can you tell her where I am

Some try to hand me money, they don’t understand
I’m not broke I’m just a broken hearted man
I know it makes no sense, but what else can I do
How can I move on when I’ve been in love with you

‘Cause if one day you wake up and find that you’re missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you’ll come back here to the place that we’d meet
And you’d see me waiting for you on the corner of the street

So I’m not moving
I’m not moving

Policeman says son you can’t stay here
I said there’s someone I’m waiting for if it’s a day, a month, a year
Gotta stand my ground even if it rains or snows
If she changes her mind this is the first place she will go

‘Cause if one day you wake up and find that you’re missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you’ll come back here to the place that we’d meet
And you see me waiting for you on the corner of the street

So I’m not moving
I’m not moving
I’m not moving
I’m not moving

People talk about the guy
Who’s waiting on a girl, oh whoa
There are no holes in his shoes
But a big hole in his world

Maybe I’ll get famous as the man who can’t be moved
And maybe you won’t mean to but you’ll see me on the news
And you’ll come running to the corner
‘Cause you’ll know it’s just for you

I’m the man who can’t be moved
I’m the man who can’t be moved

‘Cause if one day you wake up and find that you’re missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you’ll come back here to the place that we meet
Oh, you see me waiting for you on a corner of the street

So I’m not moving
(‘Cause if one day you wake up, find that you’re missing me)
I’m not moving
(And your heart starts to wonder where on this earth I could be)
I’m not moving
(Thinking maybe you’ll come back here to the place that we’d meet)
I’m not moving
(Oh, you see me waiting for you on a corner of the street)

Going back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag, I’m not gonna move

Hope you listen and read this :)

May282012

Hidup itu …

Kadang orang-orang memang punya preferensi masing-masing; tentang bagaimana memilih, tentang pendapat mereka, tentang apa yang bakal mereka lakukan atau tidak lakukan. Kita, seharusnya, peduli setan sajalah terhadap pikiran-pikiran mereka. Toh selama kita tidak merugi, tidak ada salahnya.

Tapi yang namanya manusia selalu ada perasaan tergelitik ketika melihat satu dua pilihan yang manusia lain buat. Mulut rasanya tidak tahan untuk tidak berkomentar, entah diam-diam, di belakang punggung si oknum, atau malah terang-terangan. Ini hidup, love. Suka atau tidak kita memang berlaku begitu. Bahkan pada orang yang paling cuek bebek seduniapun hal ini berlaku. Manusia, seperti kata saya tadi.

Jadi, meski ini postulat paling sampah sekalipun, saya ingin membeberkan apa yang beterbangan bagai debu brengsek di kepala. Memang tidak berhak maupun bukan porsi saya. Namun, ya itu, saya juga manusia, dear.

Hidup saya tidak selurus dan semulus jalan tol Cikampek. Hidup saya tidak dikelilingi pemandangan hijau nan indah Puncak. My life is shit. Tidak kaya, tidak pintar, tidak cantik, tidak punya teman, selalu ditekan dengan demand-demand orang tua, syalala de el el yang pasti bikin kepala botak. Setidaknya, pikir saya ketika itu, saya punya keluarga harmonis. Betapa duri dalam dagingnya hidup saya. Ingin keluar toh tidak mungkin. Memangnya saya siapa? Punya kekuatan apa? Wolverine sekalipun tidak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai Scott Summer yang dicintai Jean Grey. Superman tidak bisa dilahirkan tanpa memiliki kelemahan pada kryptonite meski pria kekar itu kepingin setengah mampus. Apalagi saya yang cuma perempuan penyakitan. Jadi saya berusaha nrimo, sabar dan nampani apa yang saya punya sembari bersyukur.

Tahu? Beberapa tahun kemudian saya mensyukuri saya lahir dalam keluarga aneh namun harmonis ini. Saya rela memberi apapun, bahkan nyawa, untuk mendapatkan hidup yang pernah saya kutuk setiap malam.

Kenapa? Saya belajar banyak, my friend.

Banyak. Banyak sekali sampai almanak paling bahela pun tidak bakal memberi apa yang saya punya sekarang.

Seperti pepatah setiap kejadian pasti ada hikmahnya, hidup saya berjalan persis seperti itu. Hikmah mencuat setiap kali hari-hari saya bergulir. Syukur dan syukur dan syukur saya rasakan. Serius. Dari yang enak sampai paling pahit sekalipun saya syukuri. They give me lessons that I won’t get from anyone elses or anything.

Experience is the best teacher mungkin ada benarnya sekarang. Ya, saya belajar dari pengalaman. Saya mulai mendapatkan teman, belajar bagaimana menjadi manusia yang lebih baik, meniti jalan untuk melunasi target-target yang ayah-ibu saya tetapkan. Mungkin tidak sebaik Muhammad atau santo manapun. Tapi saya senang, cukup bangga dengan apa yang telah saya buat. Dulu saya anak penyakitan pembenci sekitar yang penyendiri, tidak disukai siapapun dan tidak pintar serta aneh. Sekarangpun saya tetap aneh … dan koleris akut (yang ini tidak bisa saya rubah sayangnya). Tapi setidaknya saya jadi orang yang lebih baik.

Hidup itu serba memilih. Memilih mana yang baik dan tidak. Memilih mana yang, bahkan, terlihat seperti buah simalakama sekalipun. Dari sanalah sebenarnya manusia bisa belajar. Benar-benar belajar dan, siapa tahu, mensyukuri hidup dan kehidupan itu sendiri.

Bersyukurlah bisa hidup dan atas hidup yang kita miliki. Banyak yang kurang beruntung. Banyak yang tidak seperti kita.

Hidup itu indah…

Saya gak main-main.

9PM

Dika = DIam-diam menghanyutKAn

Iya. Itu yang dia bilang pertama kali pas ngenalin diri. Lalu semenit kemudian dia bilang kalau namanya Anderu.

“Heh?” tanya gue.

“Anderu aja. Panggil gue Anderu B-)”

Orangnya nyenengin, serius. Konyol sekaligus teman berbagi cerita yang baik. Entah bagaimana, rasanya, anak itu selalu bersedia meluangkan waktu buat gue.

People says sometimes coincidence or, even, fate brings people together.

Kakaknya (juga gue) tinggal di Jogja. Kerja, katanya. Dan, surprisingly, dia tahu nama jalan tempat gue ngekos. Sekolahnya adalah sekolah yang sempet gue dambakan. Hampir masuk sana. Karakter kita kurang lebih sama. Coincidence? Fate? Idk. But clearly we met. I’m pretty much happy finding the kid.

And I like him more and more.

Adek, gue panggil dia. Gantinya dia panggil gue Tante. Terus kami adu mulut (?) dengan gobloknya waktu itu. Bukan adu mulut juga sih. Cuma ejek-ejekan tolol mirip anak 2 SD.

The night ended with him calling me Mpok Nori.

Jleb.

Sumpah. Jleb. Banget.

Dengan enggan gue bilang, “Please jangan Mpok Nori.”

“Kenapa?”

You can call me anything. Tante will do, but not Mpok Nori.”

“Gue pengennya Mpok Nori.”

“………………”

“Mpok Nori….”

“Soalnya mantan manggil gue itu.”

Another coincidence.

Kalo di RPG whatsoever gue nge-plot “anak” ngalamin coincidences sama chara lain kayak orang gila saking seringnya. Ini adanya gue gila beneran karena bisa pas. ==”

I’m not lying if that’s what you’re thinking.

Setahun sudah gue kenal anak ini. Sekarang dia lagi semedi akibat deraan SNMPTN. Bandung, ujarnya waktu itu. ITB dia memilih. I wish you luck. Really.

Setahun gue kenal dia. Sedikit dari hidupnya gue intip. Tapi dalam waktu yang nggak bisa dibilang sedikit itu, gue nggak pernah benar-benar tahu namanya. Dika? Anderu? Entahlah. Malah bisa jadi bukan keduanya. Yang pasti gue tahu kalau kami jarang ketemu. MIA seolah jadi hobinya.

Dear Anderu,

Dear Dika,

I miss you so bad, boy…

8PM

farewell-kingdom:

Being here, by Mark Garry, thread pins, beads

May262012
[Flash 10 is required to watch video]

this is a property of my dear friend. was made ‘cause we need something fresh for our play for speaking exam :))

just photos … and yeah photos.

all credit goes to Novidewi, SHINee, and Timur.

May142012
May132012

Baghdad

Dijanjiin dari siang tapi baru digarap habis Isya’ =)) *dicekek* Maaf tidak sesuai pekerjaan yang dikasihin. Entah kenapa pengen buat yang begini meski miskin knowledge tentang perang. Ga nemu judul jadi ya gitu u_____u Tribute buat bapak deh, sekalian. Hopefully it won’t disappoint you.

—————————————————————————————————————————————————-

                “Aku letih…”

                “Minum seteguk dan aku janji letihmu akan hilang.”

                “Aku hanya ingin tidur, Akhmed…”

                “Dan ini, cairan ini akan membantumu, Saudaraku.”

                Akhmed Salim menggenggam tangan pesakitan yang terbaring lemah itu, mengelus dahinya yang bercucuran keringat sesekali. Dua matanya yang hitam pekat menatap orang yang ia sebut saudara menegak minuman yang diberikan. Luka pada dadanya jelas membuat pria itu tersiksa. Sakit, katanya. Akhmed tahu, dia pernah berada di posisi orang itu. Namun toh bibirnya terkunci dan hanya tersenyum lemah sebagai penghibur.

                Iris biru cemerlang tersebut lantas mengatup. Menandakan tuannya tengah terlelap. Dadanya naik turun teratur, stabil.

                Barak tempatnya berdiam kini jauh dari layak. Angin malam acap kali masuk lewat lubang-lubang bekas peluru yang berhamburan. Mereka diserang tiga hari lalu. Dan sebagaimana penyerangan-penyerangan lain berbuah, banyak di antara mereka tumbang; sebagian tewas tertembak, sebagian yang lain luka parah, dan sebagian kecil yang beruntung hanya mendapat luka minor. Baghdad jelas bukan tempat bersahabat di tengah 2015 begini.

                Mayat bergelimpangan seolah menjadi makanan sehari-hari. Mereka pun dimanjakan dengan pemandangan bangunan runtuh dan desing mesiu setiap saat. Ini bukanlah Houston; tempat darah tertumpah dengan mudahnya. Lalu harga nyawa pun dipertanyakan: apakah sepadan dengan apa yang orang-orang itu cari selama ini? Akhmed mendesah. Yang tadi itu adalah pertanyaan yang acap kali mampir dalam benaknya, suatu retorika memang; karena nyawa toh tidak bisa dikembalikan dengan jalan apapun meski dengan pembangunan sebuah memorial. Ayah dan kakaknya mati, ibunya hilang. Mereka tidak kembali meski pemerintah menuliskan nama mereka di dinding sebagai penghormatan. Sia-sia, mereka korban perang yang sia-sia. Ia masih remaja berjerawat ketika kehilangan seluruh keluarganya.

                Pria dua puluh lima itu menyingkap pintu kain lusuh barak. Kepalanya menoleh sebelum ia benar-benar meninggalkan saudaranya yang terluka. Bodoh, pikirnya, Aku bodoh. Dia merasa terlalu manusia—terlalu punya hati. Meski ketika kaumnya sendiri dibantai, ia tetap tak bisa membiarkan pria sekarat itu mati. Bukankah dia salah satu dari mereka? Dan bukankah Tuhannya mengajarkan untuk mengasihi sesama terutama mereka yang kesusahan? Desahan tercipta diiringi geleng pelan. Beban dipundaknya terasa makin bertambah. Dia letih…

                —————————————————————————————————————————————————-

                Empat belas September 2015. Malam berdarah. Desing peluru lebih sering terdengar. Jerit pilu dan kesakitan setelahnya. Darah, darah di mana-mana. Kepala peleton berteriak mengomando. Suara pantofel berderap kalah oleh teriakan-teriakan. Sebuah tembakan dilepaskan. Ada granat dilempar.

                “Pergi!”

                “Jangan bodoh! Ikut!” Dia membopong paksa pesakitan yang terbaring.

                “Tolol kau Akhmed! Untuk apa membantuku? Aku akan menghambat jalanmu! Kakiku pincang dan luka di dada belum lagi sembuh. Hanya tiga menit dan aku pasti akan jadi mayat!”

                “Seorang hamba Tuhan tidak akan meninggalkan saudaranya sendirian,” ujarnya bijak. Ia mengulas senyum.

                Lelaki dengan tangan digips itu tersenyum kecut. Matanya yang cokelat menatap teduh sosok legam di sampingnya. “Akhmed…” panggilnya lirih. “… aku bukan saudaramu.”

                “Dengar,” Sersan itu menepuk pundak tegap di sebelahnya. “Rambutmu boleh cokelat, matamu biru, kulitmu putih, dan hidungmu lebih ramping daripada milik kami. Tapi kau dan aku sama-sama manusia, George.”

                Dua bibir itu hanya mengatup. Diam menelan frasa tanpa membantah satu ujaranpun.

                “Bukankah semua manusia itu ciptaan Yang Kuasa? Bukankah kita cuma seorang yang sia-sia jika sendirian? Aku akan membantumu, Letnan Bronson. Akhmed Salim tidak bisa membiarkanmu mati di sini.”

                Gilirannya untuk bungkam. Sekedar melihat reaksi apa yang diberikan lawan bicaranya. Namun, lagi-lagi, hanya kekacauan di luar yang terdengar.

                “Kau punya keluarga?”

                “Ya.”

                “Tidakkah kau ingin bertemu dengan mereka?”

                “……” Kepalanya menunduk. “Papah aku.”

                —————————————————————————————————————————————————————-

                “Hasan! Hasan!”

                Tubuh itu hanya tergolek tanpa menjawab. Baju putih dan sorbannya berlumur darah.

                “Hasan!” Dia masih mengguncang teman seperjuangannya, berharap pria bernama Hasan itu menjawab meski dengan suara lirih.

                “Percuma. Dia sudah mati.” George mengecek nadi mayat itu.

                “Semoga Dia mengampuni dosa-dosanya.” Lantas dibisikkannya semacam doa di telinga saudaranya yang gugur dengan bahasa yang pria kaukasia itu tak ketahui.

                DOR!

                Sebuah tembakan dilepas. Akhmed menoleh dan menemukan lubang baru di dahi Hasan, tepat lima senti dari kepalanya sendiri. Dia merunduk dengan sigap, George Bronson mengikuti di belakang.

                Satu lagi peluru berdesing. Meleset. Satu, lalu dua, lalu tiga, dan kini empat. Mereka masih bernapas—hidup.

                Go! I’ll cover you.

                “Jangan bodoh. Mereka cuma akan menjadikanmu samsak. Ill cover you.”

                “Aku menolak,” ucapnya singkat. Sebuah seringai menceruk dan ia mengokang pistol. “Berdua. Setuju?”

                Sebuah anggukan jadi jawaban.

                Dua orang itu mengendap-endap sambil sesekali menembakkan senjata dan sesekali pula berlindung di antara puing-puing. Orang-orang kulit putih itu terus menembaki keduanya, tidak pandang bulu meski pria di sebelah Akhmed jelas-jelas bagian dari ras mereka. Terus, mereka menghindar di setiap langkah dari peluru-peluru liar yang membabi buta.

                “ACK!”

                “Akhmed!” Dia mendatangi temannya yang telentang tak berdaya; tangannya memegangi perut, darah mengucur dari sana.

                Just go…”

                I refuse to go, you moron.”

                “Aku akan mati, Letnan.”

                “Jangan panggil aku Letnan. Lebih baik kau simpan tenaga sementara aku membalut lukamu dengan sorban.”

                “Bukankah pangkatmu itu kau capai dengan susah payah?”

                Lelaki itu menggeleng dan tersenyum simpul. “Satu pembantaian dan aku dapat promosi.”

                “Oh…” Hanya itu yang keluar. “Sudah lama?”

                “Dua tahun lalu. Baru masuk ketentaraan dan karirku langusng melonjak,” ceritanya dengan rasa gembira yang kurang pandai ia tutup-tutupi.

                “Dua belas?”

                “Ya.”

                “Baghdad?”

                “Uh-hum.”

                Ctik.

                “Hei! Jangan bercanda!” pekiknya kaget. Moncong senapan diarahkan ke dahinya yang berpeluh.

                “Baghdad, dua belas tahun lalu. Mei, kurasa?”

                “K-k… Kenapa tahu?”

                “Pria yang memeluk putrinya dan ibu yang menyuruh lari putranya.”

                Sepasang safir itu membelalak, seolah melihat hantu mengerikan.

                “Ya, aku bocah itu.”

                DOR!

2AM
allisonelisabeta:



somehow menghibur malam-malam :))

allisonelisabeta:

somehow menghibur malam-malam :))

(Source: kyokosan)

cat .gif cute 

2AM

Yanina…

Tidak produktif selama seminggu. Jadilah dua cerita dalam waktu … berapa? tiga jam? gak tau lah. Bahasanya rada jadul dan khas novel klasik kayaknya. Sengaja open ending lagi <— ga bisa bikin ending yang bener. But hopefully it still offers enjoy.

                

———————————————————————————————————————

              

“Yanina…”, panggil laki-laki itu.

                Jemarinya menyusuri tulang pipi si gadis, pelan. Dia memujanya, baginya perempuan itu adalah seorang dewi, Aphrodite miliknya, firdaus abadinya, segalanya bahkan lebih dari nyawanya sendiri. Mata biru besar itu terbuka, menatap si pria ganjil lalu merekahkan senyum.

                “Yanina…”

                Satu panggilan penuh kasih, terucap sebagai limpahan afeksi. Itu namanya, nama yang ia berikan. Tidak ada yang tahu siapa gadis itu sebenarnya. Nama, latar belakang, apalagi keturunan dan tanggal lahir. Misteri melingkupi perempuan muda yang terbaring di depannya dalam balutan gaun sutera putih. Wajahnya yang terbingkai gerai platina tertoleh. Napas James memberat. Dia tahu sebagaimana dirinya sendiri tahu bahwa si pemahat mencintainya seperti seorang serakah mencintai emas. Buatnya enigma tak terpecahkan tersebut hanyalah mulut Yanina yang senantiasa mengatup jika ditanya mengenai perasaannya terhadap James.

                “Yanina…”

                Yes, James?”

                Bibir yang dipanggil meretas senyum. Satu dua jemarinya menyelip rambut ke belakang telinga si gadis. Yanina bangkit, duduk di atas dipan dan menepuk spasi kosong di samping—membiarkan James berada di sebelahnya.

                Take me…” mohon pria itu.

                “Ke mana tepatnya?”

                “Tempat yang kau tawarkan kepadaku. Ke surgamu, Yanina. Bawa aku ke sana.”

                “Dan mengapa aku harus melakukan itu, Mr. Atwood?”

                “Agar aku tak usah membagi tempat bagi kesedihan di hati,” mata birunya menatap lapis lazuli besar di seberang. “Karena…” ia mengulum senyum, “… karena aku tak mau berpisah denganmu.”

—————————————————————————————————————————

                Ruang itu sepi. Hanya terdengar bisik samar sesekali. Hujan masih turun, gemar memamerkan petir di saat bersamaan. Sudah beberapa hari ini rintik air menjadi pemandangan umum setiap sore. Bukan hal bagus bagi cuaca dingin musim gugur Westminster. Sebagai tambahan, perapian di sanatorium kecil itu tidak mampu membawa kehangatan musim panas meski dengan nyala api yang paling besar. Pemiliknya yang sudah tua tidak mampu lagi mengeluarkan biaya yang besar untuk memperbaiki rongsokan tersebut. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari memiliki sebuah tempat perawatan jiwa apalagi jika ada satu pasien yang bukannya membaik malah semakin tenggelam dalam ilusi kreasinya sendiri.

                Mengeluh bukan suatu jawaban. Dan pasien itu tidak pernah memiliki siapa-siapa sebagai pengunjung. Sulit menyingkirkannya kecuali dia benar-benar sembuh dan siap dilempar kembali ke lingkungan sosial. Pemilik sanatorium merupakan pria yang terlalu baik hingga mau menampung pria yang telah dioper dari satu rumah perawatan ke rumah perawatan lainnya. Maka, kini, dia juga akan berjuang untuk membawa lelaki yang sudah sering jadi buah bibir itu ke kenyataan—ke tempat yang seharusnya.

                Namun bulan dan tahun berlalu, pasien tersebut belum juga menunjukkan perkembangan progresif. Malah semakin menjadi. Sekarang dia ditempatkan di kamar berjeruji, lebih mirip penjara daripada sebuah kamar di rumah sakit. Kegilaannya menjadi. Kadang dia mau mati, mau pergi ke suatu tempat yang jauh, tapi kadang malah menangis pilu entah karena apa. Tidak ada yang mau repot-repot menanggapi. Semua berpendapat sama; bahwa lelaki itu adalah seorang gila yang bertingkah laku sebagaimana mestinya—tidak waras.

—————————————————————————————————————————

                “Kau mau kemana?” tanyanya suatu hari.

                “Pergi. Aku merasa tempatku bukan di sini, James. Sesuatu dalam hatiku memanggil, berkata bahwa aku harus meninggalkan tempat ini.”

                “Oh, Yanina…” ujarnya. James Atwood bangkit dari kursinya, beralih dari buku apapun yang ia tengah baca. “Kau akan membiarkanku membusuk dalam kesedihan,” ia hampir memohon, “Jangan… Tinggallah…”

                “Maka ikut. Ikut denganku James…”

                Tiba-tiba, seperti kehidupan baru dihembuskan ke dalam raga kosong melompong, matanya berbinar gembira. Tangannya menangkup tangannya Yanina. Dingin seperti biasa, seperti bukan wanita muda yang sehat. Namun dia sudah terbiasa, karenanya James tidak terlonjak kaget.

                “Aku akan ikut denganmu,” ujarnya penuh ketetapan hati.

                Then I’ll give you my word: I won’t leave your side.

—————————————————————————————————————————-

                Sepuluh tahun berlalu, tapi cuaca masih tetap sama: hujan diiringi petir, jatuh di musim gugur yang sama pula. Orang-orang akan dengan senang hati menghirup cokelat panas dan berdiam di balik selimut atau menikmati derik oranye api menyala di perapian. Namun ada pula orang-orang yang lebih suka menghabiskan waktu dengan berbincang mengenai suatu topik menarik, sekedar untuk membunuh waktu. Tentang pasien yang secara ajaib kabur, misalnya.

                “Aku masih ingat kejadian itu. Mengerikan sekali mendengar ada orang gila lepas dari pengawasan petugas medis dan berbaur di antara kita,” ujar sebuah suara.

                “Siapa tahu dia akan mencelakai salah satu dari kita. Katanya pria itu mengoceh tentang kekasih atau semacamnya sehari sebelum dia menghilang,” kata yang lain.

                “Benar. Kenalanku kerja di sana. Aku bisa memastikan hal itu,” timpal sebuah suara yang lebih tinggi—seorang wanita kali ini. Matanya melirik ke luar, melampaui atap tempat tiga orang itu berteduh. Tetes hujan masih turun meski tak selebat tadi.

                “Sudahlah. Lagipula mengapa kita membicarakan hal menyeramkan dengan suasana mengerikan begini? Tidakkah kalian dengar teriakan halilintar?”

                “Benar… Ngomong-ngomong sudah coba wine enak di toko yang baru buka di tengah kota?”

                Sejenak, kisah kaburnya seorang pasien terlupakan.

—————————————————————————————————————————-

                Westminster 1904 musim dingin, enam bulan setelah hujan dan petir yang tak berkesudahan, adalah hari sibuk bagi sebagian besar orang. Salju turun lebat malam sebelumnya, menumpuk kerja pengeruk salju, memupuk jengkel pekerja kantoran yang tak bisa sampai kantor tepat waktu dan memberi keheranan tersendiri bagi polisi daerah.

                Telepon berdering di pagi buta, membuahkan decak kesal petugas jaga yang tidur lima menitnya terganggu. Dan setelah tiga menit laporan seorang wanita, mata mengantuknya membuka bagai disiram sari cabai. Dengan sigap ia memerintahkan beberapa anggota kepolisian menuju tepian Thames—sesuai laporan yang diterima.

                Sesosok tubuh kaku membiru mengambang di permukaan sungai begitu mereka tiba. Wanita penelepon berdiri sambil memegangi dada, jelas masih terkejut dengan apa yang menyambut paginya. Lantas ia digiring pergi oleh opsir beroman ramah.

                “Ada tanda pengenal?” tanya kepala tim penyidik.

                Bawahannya mendesah tanpa harapan. “Tidak ada dompet apalagi kartu pengenal atau uang.”

                Another Joe Bloggs,”ujarnya malas. Ia mencatat sesuatu pada bloknotnya. “Jadi jelas prosedur apa yang akan kita lakukan, anak-anak. Bawa pria ini dan…”

                I’m afraid that the procedures should wait, Sir.

                Alisnya meninggi, dengan gerakan kepala dia mengomando anak buahnya kembali ke tepi setelah—ia yakin—lelaki pirang tersebut menemukan sesuatu di sungai yang jelas membuat celananya basah meski sudah digulung.

                What bloody thing is that?” tanyanya ngeri begitu sebuah patung dengan anggota tubuh tidak lengkap dibawa naik. Mata bulatnya yang besar menatap ganjil, memberi sensasi dingin tersendiri di tengkuk Si Kepala Penyidik.

                “Entahlah. Patung, semacam jimat atau suatu yang amat berharga bagi Joe Bloggs ini kurasa. Kalau tidak untuk apa pria ini membawa benda berat begitu sampai detik akhir kematiannya?”

                Hey… Found something,” ujar yang lain. “This,” ia memamerkan secarik kertas. Petugas itu memberikan kertas kumal kepada atasannya.

                I got you at last…

                Jeda. Lelaki itu berhenti membaca.

                … Yanina…

fic yanina 

← Older entries Page 1 of 8